Jumat, 01 Mei 2009

Matematika, Siapa Takut?

Matematika sering kali dianggap pelajaran momok. Tak cuma si anak yang kebingungan, orang tua pun sering dibuat kalang kabut.
Segala daya dikerahkan para orang tua bagi anaknya. Mulai dari les sampai ikut bimbingan belajar. Tapi beberapa waktu terakhir ada lembaga yang khusus menyelenggarakan kursus matematika. Ada yang menggunakan Metode Kumon, sementara lainnya menggunakan alat bantu sempoa.
Kembangkan potensi individu
Sebenarnya nama Kumon adalah nama keluarga penemu metode belajar matematika, Toru Kumon. Guru matematika SMU di Jepang itu pada tahun 1954 pertama kali menyusun sendiri bahan pelajaran matematika untuk membimbing anaknya belajar matematika. Setelah terbukti memberi hasil memuaskan pada anaknya dan juga anak didik dan tetangga dekatnya, ia pun ingin menerapkan cara belajar dan bahan pelajaran ini kepada sebanyak mungkin anak. Tak heran dengan sifatnya yang universal, kini Metode Kumon telah dapat diterapkan di 40 negara, termasuk Indonesia.
Prinsip dasar metode yang disebarluaskan ke Indonesia pada Oktober 1993 ini adalah pengakuan tentang potensi dan kemampuan individual tiap siswa. "Maka, seseorang yang mendaftar kursus Kumon harus mengikuti tes penempatan," tutur Suita Sary Halim, pimpinan penyelenggara kursus Kumon. Tes penempatan itu untuk mengetahui titik pangkal siswa, supaya siswa dapat mengerjakan bahan pelajaran sesuai dengan kemampuannya. Tak heran bila soal itu biasanya bisa selesai dalam batas waktu tertentu, biasanya hanya dalam hitungan menit.
Setelah itu, ia akan terus berlatih mengerjakan soal-soal latihan sesuai kemampuan, daya konsentrasi dan ketangkasan, bukan berdasar tingkat kelas formal atau usia siswa saja. Siswa SD kelas II bisa saja menghadapi soal latihan untuk SD kelas I, "Karena mungkin yang ia kuasai benar baru pelajaran di kelas I," ujar Suita.
Sebagai contoh, mungkin saja ada siswa SD kelas II yang harus belajar penambahan yang termudah. Misalnya, 1 + 1 = 2, 2 + 1 = 3, 3 + 1 = 4, 4 + 1 = 5, 5 + 1 = 6, dst. Namun begitu jangan dianggap enteng karena ia harus menyelesaikan sebanyak 50 soal hitungan serupa hanya dalam waktu 2 menit. Latihan itu dilakukan berulang kali, sampai ia menguasai dan mampu di luar kepala menjawab soal serupa. Selanjutnya, ia akan meningkat ke bagian berikut, namun dengan tingkat perbedaan kesulitan yang sangat kecil, misalnya 1 + 2 = 3, 2 + 2 = 4, dan seterusnya.
Maka jangan kaget bila dalam kelas bisa ditemukan siswa dalam berbagai tingkat usia. Begitu pun, beberapa siswa yang duduk di tingkat kelas yang sama tidak berarti akan memulai mengerjakan soal latihan yang sama pula. "Kembali lagi karena masalah potensi dan kemampuan yang berbeda dari tiap siswa. Maka yang diterapkan adalah belajar perseorangan," tutur Suita sambil menambahkan tiap siswa Kumon mendapat bahan pelajaran yang berbeda dengan siswa lainnya, baik jumlah lembar kerja maupun tingkat bahan pelajarannya.
Karena mulai belajar dari bagian yang tepat, dalam arti sesuai dengan kemampuannya, dan program dibuat secara perseorangan, siswa tidak akan menemui kesulitan belajar. Yang muncul justru perasaan senang belajar matematika. Penyebab yang lain karena di lembaga ini tidak tertutup kemungkinan untuk merevisi dan mengembangkan bahan pelajaran agar anak-anak tidak mengalami kesulitan dalam belajar dan tidak kehilangan semangat belajarnya. Selain itu prestasi antara satu siswa dengan yang lain tidak dibanding-bandingkan, sehingga kalaupun ada yang agak lambat mencapai kemajuan tidak akan merasa kecil hati dan putus asa.
Uniknya, berkat metode yang mengunggulkan kemampuan dan semangat belajar perseorangan itu, biasanya setelah 6 bulan - 1 tahun, siswa sudah bisa mencapai tingkat pelajaran di sekolahnya, setelah itu melampauinya.
Kemajuan dari hasil belajar siswa Kumon memang sangat bervariasi. Ada siswa yang menyelesaikan seluruh bahan pelajaran Metode Kumon, hingga level Q mengenai probabilitas dan statistika, dalam waktu 2 tahun 10 bulan. "Namun, sekecil apa pun kemajuannya, kami akan selalu mengakui setiap hasil yang telah mereka capai dan menunjukkan jalan agar pada diri setiap anak timbul rasa percaya diri dan keberanian," ujar Suita sambil menambahkan pada umumnya prestasi siswa sesudah mengikuti kursus metode ini meningkat, terutama dari segi akademis.
Disiplin berlatih
Kumon menilai kunci keberhasilan belajar matematika adalah dengan banyak berlatih. Tak heran bila selama belajar dengan Metode Kumon siswa akan mendapat banyak porsi latihan. Dalam tiap satuan lembar kerja terdapat puluhan soal, sehingga untuk satu materi bahasan ia akan mengerjakan hingga ratusan soal latihan. Maka, untuk menyelesaikan seluruh topik bahasan, bila ia jadi siswa sejak tingkat pertama, jumlah soal latihan yang dikerjakannya tentu mencapai puluhan ribu!
Di Kumon, menurut Suita, siswa yang sudah punya kemampuan cukup yang bisa maju ke tingkat lebih tinggi. Bagi yang belum cukup akan terus mendapat pengulangan, sehingga nantinya ia tidak mendapat kesulitan saat mengerjakan bahan pelajaran yang lebih tinggi.
Selain itu Kumon memberlakukan sistem nilai 100, artinya tiap latihan harus benar dikerjakan semua sebelum bisa berganti lembar pelajaran. Siswa yang melakukan kesalahan harus memperbaiki sendiri sampai mendapat nilai 100. Cara ini dinilai efektif agar siswa tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.
Namun, kenaikan tingkat sering kali tidak terasa. Ini karena perubahan bahan pelajaran dibuat sedemikian kecil, bahkan halus dan sistematis. Bahan pelajaran meningkat seiring dengan kemampuan penalaran sendiri, jarang sekali ia harus minta bantuan pembimbing. Cara ini akan membentuk kebiasaan belajar mandiri yang berguna untuk menggali potensi diri-sendiri.
Selain materi pelajaran, waktu belajar siswa pun digodok matang. Siswa umumnya datang ke kelas 2 kali seminggu dengan waktu belajar rata-rata 30 menit, tergantung tingkat bahan pelajarannya. "Namun, di luar hari kelas, mereka mendapat PR dengan jumlah yang tepat sesuai kemampuannya setiap hari," ujar Dani Wulansari, staf lembaga Metode Kumon.
Semua cara belajar itu diterapkan pada seluruh peserta kursus tanpa memandang usia, karena Kumon memang bisa diikuti oleh siswa pada usia berapa pun. "Pendaftarannya pun terbuka setiap saat," ujar Dani sambil menambahkan sebaiknya siswa mempelajari metode ini sejak usia dini, karena hasilnya tentu akan lebih memuaskan. Yang terutama dirasakan adalah kemampuan berpikir matematis akibat latihan mengkoordinasikan angka-angka menggunakan otak dan tangan. Khususnya latihan hitungan dengan Metode Kumon akan terasa sangat membantu untuk mengenal matematika tingkat SMP dan SMA, sehingga ia akan dengan mudah mengerjakan soal-soal persamaan, pemfaktoran, juga diferensial dan integral.
Dengan demikian, Metode Kumon bukan hanya meningkatkan penguasaan matematika, tapi juga berbagai kemampuan belajar pada anak, mulai dari konsentrasi dan ketangkasan kerja, semangat kebiasaan belajar mandiri, kebiasaan belajar setiap hari. Bila ia bisa menyelesaikan soal latihan matematika dari sekolah dengan cepat, maka ia bisa menggunakan sisa waktu untuk mempelajari ilmu lain. Alhasil, pelajaran lain pun pasti akan meningkat.
Dari pasir sampai manik-manik
Konon dengan sempoa seorang anak dapat menjawab sederetan soal hitungan penjumlahan dan pengurangan hanya dalam beberapa menit. Yang dilakukannya cuma menjentak-jentikkan biji manik-manik sempoanya dengan cekatan.
Sempoa memang bukan barang baru. Diduga alat hitung ala abakus pertama dimiliki suku Babilonia dalam bentuk sebilah papan yang ditaburi pasir. Di atasnya orang bisa menorehkan berbagai bentuk huruf atau simbol. Tak heran bila ia disebut abakus yang dalam bahasa Yunaninya abakos, artinya 'menghapus debu'. Ketika berubah fungsi menjadi alat hitung, bentuknya pun diubah. Permukaan pasir itu menjadi papan yang ditandai garis-garis lengkap dengan sejumlah manik-manik satuan, puluhan, ratusan, dan seterusnya.
Alat itu makin disempurnakan di zaman Romawi. Papannya dibuat berlekak-lekuk cekung agar saat menghitung manik-manik mudah digerakkan dari atas ke bawah.
Orang Cina mengembangkan "hsuan-pan" (nampan penghitung) alias abakus itu menjadi dua bagian. Pada jeruji atas dimasukkan dua manik-manik dan jeruji bawah lima manik-manik. Di abad pertengahan abakus makin tersebar luas, di antaranya sampai ke Eropa, Arab, dan seluruh Asia.
Abakus sampai di Jepang pada abad ke-16. Namun Jepang mengubah susunan manik-manik menjadi satu pada jeruji atas dan empat di jeruji bawah. Satu manik-manik jeruji atas bernilai lima dan empat di jeruji bawah (dimulai dari tengah ke kiri) bernilai satuan, selanjutnya puluhan, ratusan, dan seterusnya. Sedangkan di bagian tengah ke kanan untuk menghitung bilangan desimal. Rupanya abakus ala Jepang ini yang belakangan populer kembali, termasuk di Indonesia.
Menanam sempoa di otak
Munculnya mesin hitung elektronika di AS tahun 1946, rupanya tidak menggoyahkan kepopuleran sempoa. Malah anak yang sudah sangat fasih menghitung dengan metode sempoa telah dibuktikan mampu mengalahkan cara hitung dengan komputer.
Belakangan berbagai kursus mental aritmatika sempoa memang menjamur di kota-kota besar. Menurut salah satu penyelenggara kursus, yaitu Yayasan Aritmatika Indonesia (YAI) yang mengambil lisensi dari Malaysia, berhitung metode sempoa hanya melibatkan hitungan tambah, kurang, kali, dan bagi.
Satu paket belajar terdiri atas 10 tingkat yang kenaikannya harus melalui ujian. Pada tingkat I - III anak belajar penjumlahan dan pengurangan. Pada tingkat IV diajarkan perkalian dan pembagian. Bila satu tingkat selesai dalam tiga bulan, berarti untuk menamatkan 10 tingkat perlu waktu 30 bulan atau 2,5 tahun. Umumnya bila sudah sampai tingkat terampil, mungkin setelah belajar 6 bulan - 1 tahun, sekitar tingkat II atau III, murid diharapkan mampu menghitung tanpa alat bantu apa pun. Sepuluh baris pertanyaan perkalian tiga digit angka dengan tiga digit angka bisa selesai kurang dari 30 detik!
Hal ini bisa terjadi karena anak sudah hapal lokasi satuan, puluhan, ratusan, dst. Cukup dengan membayangkan posisi manik-manik sempoa sambil memainkan jari-jari tangannya, ia bisa menemukan hasil hitungan. Pada tingkat ini ia sudah mampu menghitung cepat di luar kepala. Visualisasi penggunaan sempoa sudah tertanam dalam otaknya.
Namun, ada catatan penting lain, menurut sistem YAI, pelatihan aritmatika sempoa paling sesuai untuk anak usia 6 - 12 tahun karena mereka sedang dalam taraf mempelajari metode dasar eksakta.
"Pikiran mereka masih jernih, belum terlalu dipengaruhi metode aritmatika lain," tutur Ibu Tia, praktisi sistem YAI di Sanggar Kreativitas Bobo, Jakarta.
Akhirnya, selain bisa berhitung cepat, metode ini berguna untuk mengoptimalkan fungsi-fungsi otak, khususnya otak kanan yang meliputi daya analisis, ingatan, logika, imajinasi, reaksi tinggi, dll. Menurut teori mental aritmatika, pemahaman atas disiplin dasar eksakta ini akan membuat anak mampu menguasai dan menggunakan secara optimal seluruh potensi dan kreativitas dirinya, termasuk menyerap ilmu-ilmu lanjutannya nanti. Untuk kehidupan sehari-hari latihan ini akan melatih mental anak agar menjadi lebih tekun serta disiplin.
Ilmu kemampuan dasar
Kemampuan menghitung dengan cepat, tentu akan menunjang anak dalam pelajaran matematika di sekolah. Atas pertimbangan itu Kepala Sekolah SD Dharma Karya Drs. H. Masduki memasukkan metode ini dalam mata pelajaran di sekolah yang dipimpinnya. "Karena saya pernah melihat ada anak SMP yang menghitung masih dengan alat bantu jari-jari tangan."
Selain itu, ia membaca di surat kabar rencana akan makin banyaknya diterapkan ilmu kemampuan dasar di tingkat pendidikan dasar. Menurut dia, "Salah satu ilmu kemampuan dasar adalah aritmatika yang meliputi penguasaan berhitung tambah, kurang, kali, bagi." Bila landasan berhitungnya cukup kuat, siswa tentu tak akan menghadapi masalah dalam memahami matematika yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dan GBPP.
SD Dharma Karya mengajarkan metode sempoa aritmatika sejak tahun ajaran baru silam dengan mengambil dua jam dari 10 jam pelajaran matematika. Metode ini diperkenalkan pada siswa kelas I hingga VI. "Repotnya, kalau diajarkan pada siswa di kelas V atau VI, mental berhitung mereka sudah terbentuk yaitu menghitung dengan alat bantu jari tangan, sedangkan jumlah jari tangan sangat terbatas. Tak heran, kalau sering kali matematika sulit dikuasai karena tidak ada bekal ilmu berhitung," aku Wito, guru mata pelajaran metode sempoa.
Nantinya, murid kelas I sekarang saat duduk di kelas V akan mendapat pelajaran aritmatika sosial. "Siswa belajar menerapkannya dalam masalah sehari-hari, misalnya saat berbelanja," tutur Wito yang mengaku sempat bekerja keras merakit sempoa sederhana untuk dipakai berlatih murid-muridnya.
Ternyata Wito punya target yang sama dengan YAI, yaitu memasukkan sempoa bayangan ke otak anak. Tugas pertamanya adalah bagaimana agar muridnya lancar mengoperasikan sempoa. Di otak setiap gerakan bisa punya makna dalam hitungan. Sehingga kalau pun tanpa sempoa siswa tak akan kesulitan dalam berhitung.
Menurut Wito, murid-muridnya tak pernah bosan belajar dengan sempoa. Murid-muridnya tak merasa sedang belajar, malah lebih merasa sedang bermain manik-manik sempoa.
Masduki tak mengingkari masalah yang mungkin muncul. Berbeda dengan kursus, di mana satu anak punya sempoa sendiri yang bisa dipakai berlatih di rumah, sempoa di sekolahnya hanya dipinjamkan pada siswa saat pelajaran. Belum lagi jumlah siswa satu kelas yang mencapai 35 orang, sehingga mungkin saja ada anak yang agak lambat menguasainya. "Namun, selalu ada jalan keluar, misalnya memberi pengajaran remedial atau pengayaan," tutur Masduki yang, sama seperti guru dan orang tua mana pun, bertekad memberikan bekal terbaik untuk generasi penerusnya. (Shinta Teviningrum/Nanny Selamihardja)

Prestasi Anak, untuk Anak atau Orangtua?

DIMAS (10) pulang sekolah dengan wajah cemberut. Dia langsung masuk ke kamarnya dan tidak keluar sampai sore hari. Dimas sudah membayangkan, ayahnya akan marah besar karena Dimas mendapat nilai empat untuk ulangan Matematikanya kemarin.
Dulu ketika ulangan IPS-nya mendapat nilai empat juga, ayah marah dan menghukum Dimas tidak boleh main ke luar hingga satu minggu. Dimas juga tidak mendapatkan uang saku selama dua hari.
Dimas sangat takut. Guru di sekolah minta supaya ulangan tersebut ditandatangani orangtua. Mau tidak mau ayah akan mengetahui dia mendapat nilai empat lagi dan Dimas pasti terkena omel ayah. Tetapi, bila tidak minta tanda tangan, pasti ibu guru di sekolah marah. Perasaan takut dan cemas menggelayuti perasaan Dimas.
Bingung apa yang harus dilakukannya, Dimas memberanikan diri memalsu tanda tangan orangtuanya. Usaha itu ternyata berhasil. Orangtuanya tidak tahu dirinya mendapat nilai jelek, sementara guru juga tidak marah karena sudah ada tanda tangan orangtua di kertas ulangan itu.
Keberhasilan memalsu tanda tangan yang melepaskan Dimas dari omelan ayah dan gurunya, diulang terus oleh Dimas setiap kali Dimas mendapat nilai jelek. Orangtua hanya tahu Dimas selalu mendapat nilai bagus. Sementara, guru merasa orangtua Dimas sudah mengetahui kualitas Dimas di sekolah seperti apa. Ketika hari pembagian rapor tiba dan prestasi Dimas ternyata biasa-biasa saja bahkan ada dua nilai lima di rapornya, baru ”seluruh dunia” ribut. Orangtua tidak menerima Dimas tidak naik kelas karena selama ini nilainya bagus. Sementara guru juga tidak bisa menerima protes karena merasa orangtua telah mengetahui semua nilai ulangan Dimas.
TIDAK hanya orangtua Dimas yang kecewa jika anaknya gagal atau mendapat nilai jelek di sekolah. Mereka ingin anaknya mencetak prestasi lebih tinggi dari teman-temannya. Untuk mewujudkan keinginannya tersebut, orangtua tidak segan-segan memarahi anaknya dan menghukumnya dengan hukuman cukup berat jika anaknya mendapat nilai jelek.
Sebenarnya apa itu prestasi? Menurut Elly Risman, psikolog dari Club Buah Hati, prestasi adalah perwujudan dari bakat dan kemampuan. Bakat merupakan kemampuan bawaan yang berupa potensi. Namun, walau potensi ini sudah ada di dalam diri, tetap butuh latihan dan pengembangan terus menerus. Jika bakat tidak dilatih dan dikembangkan, maka tidak mendatangkan manfaat apa pun pada orang yang memilikinya.
Kemampuan merupakan daya atau kesanggupan melakukan suatu tindakan. Kemampuan ini didapat dari hasil pembawaan dan latihan. Kenyataannya, walau seorang anak memiliki bakat dan kemampuan, tidak mudah membuat seorang anak berprestasi.
”Banyak kenyataan di luar diri anak yang membuat kedua hal itu tidak muncul. Kenyataan paling jelas adalah kenyataan di keluarga, kenyataan di media, dan kenyataan di sekolah,” kata Elly di tengah seminar Club Buah Hati bertajuk Menghantar Anak Berprestasi dengan Cara Menyenangkan, di Multi Function Room Graha Niaga, Sabtu (27/7).
Kenyataan-kenyataan itu harus dilihat secara keseluruhan. Misalnya di rumah, bila setiap hari sang anak mendapatkan gizi yang baik dan rangsangan yang tinggi dari keluarganya, anak bisa berkembang dengan cepat dan cerdas. Namun, di sisi lain ada orangtua yang menuntut segala sesuatu dengan standar tinggi yang begitu tingginya sampai tidak satu pun anak bisa menjangkaunya. Anak tidak diberi kesempatan untuk sekali-kali merasakan hal-hal di bawah standar yang ditetapkan. Jika prestasi anak di bawah standar, maka hanya omelan dan hukuman yang didapat anak.
Hal lain yang membuat anak tidak berprestasi, yaitu sikap orangtua yang membiarkan anak mengonsumsi seluruh sajian yang ditayangkan di media. Sajian seperti di televisi atau komik memang sangat menarik bagi anak, namun tidak semua informasi merupakan informasi sehat dan dibutuhkan anak. Akibatnya, anak mengetahui banyak hal yang belum pantas. Orangtua lupa dia tidak punya kemampuan mengontrol seluruh materi yang ditampilkan di media.
Di sekolah, anak juga mendapatkan kenyataan yang membuatnya sulit berprestasi. Misalnya, materi pembelajaran dan cara penyampaian tidak menarik. Hal ini terjadi karena guru tidak paham tentang perkembangan anak. Gaya komunikasi guru tidak sesuai dengan anak-anak. Selain itu, buku dan alat peraga yang digunakan tidak bisa memenuhi rasa ingin tahu dan kemampuan anak.

8 Cara Melepas Kelekatan Anak

Di usia ini, anak memang masih amat lengket dengan orang tuanya. Namun dengan perlakuan yang tepat, melepas anak agar lebih mandiri, tidak mustahil, kok.
Dalam melakukan aktivitas apa pun, kebanyakan anak usia batita ingin ditemani ayah-ibunya. Sarapan, mandi, pakai baju, atau minum susu, semua harus melibatkan kita. Kalau tidak, ia bisa ngambek. Sementara, setumpuk pekerjaan masih menunggu untuk diselesaikan.  
Menanggapi hal ini, Niken Ayu Purbasari, S.Psi. mengatakan, penyebab kelekatan anak yang berlebih tak lain disebabkan pola asuh keliru. Jika orang tua selalu membiasakan diri menolong anak, kelewat melindungi, membatasi gerak, dan bersikap otoriter terhadapnya, wajar saja bila akhirnya ia sangat tergantung pada orang tua, kelewat lengket, dan kurang bisa bersikap mandiri. "Anak, kan, belajar dari lingkungan, terutama lingkungan keluarga. Kalau keluarga menerapkan pola pendidikan yang keliru, bukan tidak mungkin pertumbuhan kepribadiannya jadi kurang baik," urai psikolog dari Yayasan Mutiara Indonesia ini.  
Ketidakmandirian semacam itu jelas akan menimbulkan kerugian bagi si kecil. Di antaranya, tidak bisa secara optimal mengembangkan kepribadian, serta kemampuan sosialisasi dan kehidupan emosionalnya juga terhambat. Itulah mengapa orang tua dituntut mencermati kelekatan yang berlebih ini, sekaligus segera melakukan langkah-langkah perbaikan. Jika tidak, pengaruh buruknya akan berbekas hingga ke masa mendatang. Ingat, masa batita merupakan dasar dari pembentukan kepribadian seorang anak hingga ia berusia dewasa.  
Berikut 8 langkah yang diberikan Niken, agar anak bisa melonggarkan keterikatannya pada ayah-ibu. 
1. TUMBUHKAN RASA AMAN DAN NYAMAN  
Kelewat lengket dengan orang tua sebetulnya merupakan ungkapan rasa tidak aman. Rasa ini umumnya muncul pada saat anak berada di luar rumah. Saat itu ia merasa harus terpisah dari keluarganya, terutama ayah dan ibu.  
Agar anak merasa aman, orang tua perlu memberi penjelasan sederhana yang mudah dimengerti, contohnya, "Om ini baik, kok. Dia juga pintar nyanyi dan bikin mainan lucu-lucu. Jadi, kamu enggak perlu takut." Selain aman, tumbuhkan pula rasa nyaman. "Kenapa takut? Kan, Mama ada di sini, di samping Adik," misalnya. Jangan lupa, tersenyumlah kepadanya agar tumbuh perasaan nyaman.  
Rasa aman dan nyaman merupakan modal penting dalam melakukan berbagai aktivitas. Dengan merasa tenteram ia bisa bebas bermain yang berarti memudahkannya melepaskan diri dari kelekatan dengan orang tua.  
2. BINALAH RASA PERCAYA DIRI.  
Rasa percaya diri erat kaitannya dengan kemampuan menjadi mandiri. Jika diteruskan, kemandirian adalah lepasnya ketergantungan anak dari orang tua. Pupuklah rasa percaya diri anak dengan memberinya kebebasan dan kepercayaan melakukan segala sesuatu, asalkan tidak berbahaya.  
Contohnya, biarkan anak memutuskan sendiri hari ini akan memakai baju yang mana. Beri kesempatan padanya untuk mengenakan baju dan sepatunya sendiri, bahkan menyisir rambut. Melalui kesempatan dan kebebasan yang kita berikan, rasa percaya dirinya akan terpupuk. Dari hari ke hari ia jadi semakin yakin dapat melakukan tugas-tugas tadi.  
Bila kebiasaan ini terpupuk dengan baik, nantinya anak dapat memutuskan apakah dia memang bisa dan harus melakukan sesuatu atau tidak. Jangan lupa, pengalaman pertama yang dirasa menyenangkan dan memberi kepuasan pasti akan mendorong anak untuk melakukannya kembali.  
3. HARGAI ANAK  
Jangan pelit memberi penghargaan yang pas. Jangan pula menghubung-hubungkannya dengan pemberian materi. Pujian, belaian, ucapan kata-kata sayang dan hal-hal sejenis sudah cukup menumbuhkan rasa percaya diri anak.  
Penghargaan atas hasil yang dicapai anak juga merupakan fondasi bagi bangunan percaya dirinya. "Setiap individu, termasuk anak pasti ingin mendapat penghargaan atas apa pun yang sudah dilakukannya. Termasuk bila masih terdapat kesalahan di sana-sini."  
Pada anak yang merasa dihargai akan terbentuk konsep diri yang positif. Nah, konsep diri seperti itulah yang nantinya akan mendukung perilaku-perilaku positif.  
4. KELELUASAAN BERMAIN  
Biarkan anak bebas bermain bersama teman-temannya. Jangan lelah mendorongnya agar tertarik bermain bersama teman-teman. "Lihat, tuh. Kayaknya asyik banget, ya, main bola dengan teman-teman. Ayo, ikut main sana." Memperbanyak hubungan anak dengan dunia luar, baik dengan teman-teman sebaya maupun dengan yang beda usia akan menguatkan rasa percaya dirinya.  
Buang jauh sikap overprotektif yang hanya akan merusak rasa percaya dirinya. Larangan ini-itu hanya akan mematikan kreativitas anak yang selanjutnya memperkuat rasa ketergantungan pada orang tua. Nah, agar anak bisa diarahkan melakukan segala sesuatu sendiri, mulailah dari hal-hal kecil yang kemudian meningkat ke hal-hal besar.  
Bila dari awal rasa percaya diri anak relatif rendah, sementara ia juga kurang atau bahkan tidak mendapat stimulasi sama sekali, bukan mustahil akan makin sulit meminta anak tampil bersama orang lain. Tak heran, dalam melakukan aktivitas apa pun ia hanya mau bersama-sama dengan orang tua saja.  
5. PERKENALKAN LINGKUNGAN DI LUAR RUMAH  
Buka wawasannya dan beri ia alternatif kegiatan yang melibatkan banyak orang. Semisal mengajaknya ke rumah tetangga atau kerabat yang memungkinkannya bermain bersama kawan sebaya.  
Anak yang sudah memiliki rasa percaya diri umumnya akan lebih mudah diajak berkenalan dengan lingkungan luar rumah. Bermodal rasa percaya diri, anak lebih mampu diharapkan menekan rasa takut dan mindernya saat berada di lingkungan yang lebih luas. Kesempatan untuk mengenal lingkungan yang lebih luas inilah yang sepatutnya diberikan orang tua.  
6. HINDARI INTERVENSI  
Ketika anak mengalami masalah, orang tua sebaiknya jangan langsung menolong, apalagi mengambil alih semua permasalahan anak. Pola asuh semacam ini hanya akan membuatnya kurang memiliki citra diri positif dan semangat juang.  
Pada anak yang mengalami masalah kelekatan, sikap orang tua yang ingin tampil sebagai dewa penolong dengan gemar main potong hanya akan menguatkan kelekatannya. Menghadapi masalah apa pun, anak merasa tak perlu berusaha. Soalnya, ia tahu persis orang tuanya akan segera turun tangan. Sikap ini kian mempertegas ketergantungannya.  
Boleh jadi, intervensi orang tua dilakukan atas dasar rasa sayang. Tujuannya, membebaskan anak dari masalah. Namun kenyataannya, sikap seperti ini sama sekali tidak menguntungkan anak. Sebaliknya, kalau orang tua memang sayang, latihlah ia menolong diri sendiri. Mulailah dari hal-hal sederhana, seperti menyuap makanan sendiri.  
Yang tidak kalah penting, janganlah mudah menyerah. Upaya yang merupakan salah satu dari tahapan belajar ini memang butuh waktu yang panjang disamping kesabaran.  
7. ARAHKAN, BUKAN MALAH MEMOJOKKAN  
Jika anak keliru atau tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya, barulah orang tua boleh ikut nimbrung. Itu pun sebatas memberi arahan dan bukan merampas kesempatan. Hanya saja, arahan yang diberikan haruslah disampaikan secara bijak. "Lo, kok, pegang sendoknya terbalik. Nasinya jadi tumpah, deh. Harusnya kamu pegang seperti ini (sambil mencontohkan) lalu masukkan ke mulut."  
Penjelasan bijak yang bersifat mengarahkan akan sangat membantu dalam memperbaiki kesalahan tanpa membuat ketergantungannya jadi semakin kuat. Hindari pula sikap maupun kata-kata yang bersifat memojokkan, apalagi yang bernada menghujat. Kata-kata seperti itu hanya akan membuatnya merasa rendah diri dan takut mencoba atau melakukan sesuatu sendiri. Inisiatifnya surut ke batas minimum.  
Kala mendapat tugas apa pun, ia akan selalu kembali ke orang tuanya tanpa berusaha hanya karena ia takut salah, dicemooh, dan dipojokkan. Yang lebih celaka, anak akan merasa orang tuanya selalu benar, sementara dirinya selalu salah, yang akhirnya kian menyulut ketergantungan.  
8. JANGAN KELEWAT MENUNTUT  
Orang tua, sebaiknya jangan terlalu menuntut anak untuk bisa melakukan apa saja sesuai standar tertentu. Misalnya, menuntut anak mengancing baju sendiri dengan sempurna. Bila tuntutan-tuntutan semacam ini dipaksakan kepadanya, sementara kemampuannya belum tumbuh dengan baik, hal itu hanya akan memunculkan konsep diri yang negatif. Padahal, agar bisa berkembang secara optimal, dibutuhkan suasana kondusif yang bisa memunculkan semua potensi anak.  

Belum Tentu Anak Lebih Dekat Ke Ibu

Sebenarnya, ujar Niken, anak bisa lekat pada siapa saja. Entah itu ibu, ayah, pengasuh ataupun kakek-nenek, tergantung bagaimana pola kesehariannya dan bagaimana kualitas serta cara orang tua memberi perhatian itu.  
Kalaupun anak cenderung lebih lekat pada ibu, kemungkinan besar hal itu terbawa dari kelekatannya sejak lahir. Bukankah sejak dalam kandungan, anak sudah sangat dekat dengan ibunya. Ditambah, sifat ibu pada umumnya lebih peka dan setelah lahir bayi menyusu pula pada ibu.  
Namun, tidak mustahil anak lebih dekat pada ayah atau malah pengasuhnya. Mungkin saja dalam kesehariannya, anak tidak mendapat perhatian yang cukup, baik secara kuantitas maupun kualitas dari sosok ibu. Sementara sosok ayah atau malah pengasuh, secara kuantitas dan kualitas mampu memberikan porsi melebihi yang diberikan ibu.  
Tidak tertutup kemungkinan pula, meski sehari-hari ibu berada di rumah, anak tetap lebih dekat ke ayahnya. Jika ini terjadi, ibu mesti mempertanyakan caranya menjalin kedekatan psikis dengan anak. Sementara ayah yang jarang ada di rumah malah mampu mencurahkan perhatian yang sangat berkualitas lewat tutur kata, belaian, dan tatapan mata yang membuat anak merasa sangat dekat. "Jadi, kuantitas pertemuan tidaklah cukup tanpa dibarengi kualitas," tandasnya.  

Gaya Asuh dan Empati Pada Anak

Hasil penelitian ini secara jelas menunjukkan bahwa ibu yang menerapkan disiplin dan sistem hukuman yang berlebihan, yang tidak berusaha berkomunikasi, memberikan penjelasan, pengertian dan menerapkan peraturan-peraturan yang konsisten, dan yang secara keterlaluan memarahi anak-anak mereka ataupun menunjukkan kekecewaan mereka terhadap si anak cenderung menghalangi perkembangan prasosial si anak.
Orang tua yang menggunakan hukuman keras sebagai bagian dari disiplin dalam mendidik anak mereka memiliki kemungkinan untuk menyebabkan masalah yang lebih dari sekedar hubungan orangtua-anak yang kurang mesra.
Penelitian yang baru-baru ini dilakukan menunjukkan bahwa para ibu yang terlalu keras dapat mempengaruhi kemampuan anak-anak mereka dalam menunjukkan empati.
Hasil penelitian ini secara jelas menunjukkan bahwa ibu yang menerapkan disiplin dan sistem hukuman yang berlebihan, yang tidak berusaha berkomunikasi, memberikan penjelasan, pengertian dan menerapkan peraturan-peraturan yang konsisten, dan yang secara keterlaluan memarahi anak-anak mereka ataupun menunjukkan kekecewaan mereka terhadap si anak cenderung menghalangi perkembangan prasosial si anak, demikian ditulis Dr. Paul D. Hastings, dari National Institue of Mental Health.
Penelitian yang hanya memfokuskan diri pada gaya orang tua mengasuh anaknya tersebut menyimpulkan bahwa anak-anak mengartikan perilaku keras tersebut sebagai tidak adanya kasih sayang dari orang tua mereka.
Hasil penelitian ini telah diterbitkan pada edisi September jurnal Developmental Psychology.
Kebalikannya, para ibu yang hangat, yang menggunakan penjelasan dan tidak mengandalkan hukuman keras dalam mendisiplinkan anak-anak, mereka cenderung menumbuhkan rasa empati dalam diri anak-anak mereka. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk melihat bagaimana gaya asuh ayah mempengaruhi kepedulian anak kepada sesama.
Kelompok peneliti mengobservasi perkembangan tiga kelompok anak-anak, tingkat keagresivan atau perilaku mengganggu yang berbeda-beda mulai dari pra sekolah sampai sekolah dasar.
Sementara ketiga kelompok menunjukkan tingkat kepedulian terhadap sesama yang sama pada masa pra sekolah, seiring dengan bergulirnya waktu rasa empati anak-anak yang memiliki masalah perilaku semakin berkurang.
Untuk mengukur kadar rasa empati, para peneliti melihat bagaimana anak-anak tersebut bereaksi terhadap sandiwara dimana seorang peneliti wanita atau ibu dari si anak mengalami kecelakaan kaki. Si orang dewasa yang mengalami kecelakaan meringis, mengekspresikan rasa sakitnya secara verbal dan menggosok-gosok tempat yang sakit.
Pada pra sekolah (sekitar usia 4-5 tahun) anak-anak yang agresif dan perusuh menunjukkan rasa peduli yang sama dengan teman-teman mereka. Beberapa tahun kemudian anak-anak dengan masalah perilaku baru menunjukkan kepedulian yang kurang terhadap si orang dewasa yang terluka. Pada usia mendekati 7 tahun, mayoritas dari anak-anak bermasalah ini telah kehilangan hampir seluruh dari rasa peduli mereka.
Lebih tragis lagi, anak-anak ini juga dideskripsikan sebagai pribadi yang antisosial oleh guru mereka, dan diri mereka sendiri. Anak-anak yang disebut agresif menunjukkan ketidakpedulian mereka terhadap sesama melalui kemarahan, kekerasan, dan menertawakan ketidakberuntungan orang lain, khususnya terhadap ibu mereka.
Peneliti mengatakan bahwa respons ini adalah reaksi terhadap gaya asuh ibu-ibu mereka.
Anak-anak laki-laki tersebut cenderung mengalami kesakitan secara emosionil dan, kemungkinan, fisik, dalam hubungan mereka dengan ibu mereka, demikian Hastings dan rekan mengatakan. Kemarahan mereka dan ketidakacuhan mereka pada saat ibu mereka membutuhkan pertolongan kemungkinan merupakan usaha mereka untuk memberikan jarak atau mengurangi rasa sakit yang mereka rasakan dalam interaksi dengan ibu mereka.
Para peneliti memperhatikan bahwa anak-anak pra sekolah dengan masalah perilaku menjadi berkurang sikap agresifnya jika mereka diajarkan untuk peduli terhadap sesama. Menanamkan rasa kepedulian kepada anak-anak adalah cara yang baik untuk menghilangkan masalah perilaku pada anak-anak yang cenderung agresif atau perusuh pada usia dini, demikian peneliti menyimpulkan.
(Developmental Psychology/imi) (sumber : Lippostar.com)

4 Trik Jitu agar Si Kecil Tak Sering Bertengkar

Salah satu kesulitan yang mesti dihadapi para orang tua adalah saat anak-anak mereka bertengkar. Dr Fredrick Toke, terapis khusus anak mengatakan: ''Sebagai orang tua kita harus mengajarkan mereka untuk bertoleransi, mempunyai empati dan tahu cara menyelesaikan masalah tanpa mendatangkan masalah''. Berikut 4 trik jitu cara menyiasati...
''Karen (32 tahun) hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat kedua buah hatinya 'asyik' bertengkar.. Riza (5tahun) dan Inggrid (4 tahun) sepertinya tidak pernah capai untuk saling berebut sesuatu. Mulai dari remote tv, playstation, buku cerita sampai memandikan Choco, anjing peliharaan mereka. Kalau sudah begitu Karen hanya tinggal tunggu waktu saja sampai salah seorang mereka menangis dan mengadu kepadanya.''
Banyak orang menyarankan sebaiknya punya anak dengan rentang waktu kelahiran sekitar 1-2 tahun. ''Supaya capeknya sekalian'', itu alasannya. Membesarkan 1 orang anak saja sudah cukup melelahkan apalagi 2 orang anak sekaligus! Kan sampai dengan umur 5 tahun adalah saat-saat paling penting bagi pertumbuhan anak. Sebagai seorang ibu tentu kita tidak mau mereka 'salah asuhan'.
Salah satu kesulitan yang mesti dihadapi para orang tua adalah saat anak-anak mereka bertengkar. Dr Fredrick Toke, terapis khusus anak mengatakan: ''Sebagai orang tua kita harus mengajarkan mereka untuk bertoleransi, mempunyai empati dan tahu cara menyelesaikan masalah tanpa mendatangkan masalah''.
Berikut 4 trik jitu cara menyiasati agar si kecil bisa berhenti bertengkar:
1. Habiskan Waktu yang Sama untuk Setiap Anak
Situasi:
Luna tidak mau keluar kamar sejak pulang sekolah. Dia ngambek begitu tau ayahnya menemani Luigi kursus sepak bola sore ini. Pikir Luna ayahnya tidak adil, karena ia tidak pernah ditemani ayahnya les piano.
Trik:
Habiskan waktu yang sama untuk setiap anak. Temani mereka dalam melakukan hobi atau kursus yang mereka kerjakan.
Ahli mengatakan:
Rasa marah si kecil karena cemburu akhirnya membuat mereka mencari alasan untuk bertengkar dengan saudaranya. ''Mereka akan berpikir Anda tidak adil karena Anda hanya mencintai yang lain'', ujar Dr Liz Norris. Nah, menghabiskan waktu bersama, selain menghapus kecemburuan itu juga membuat ikatan kekeluargaan semakin erat.

2. Beri Jam Weker
Situasi:
Aldi dan Alda ribut memperebutkan remote TV. Aldi ingin menonton Takashi Castle sementara Alda ingin menonton telenovela Dolce Maria di saluran lain.
Trik:
Pasang jam weker! setiap anak diberi waktu 15 menit untuk menonton acara favoritnya. Bila alarm jam sudah berbunyi berarti 15 menit berikutnya untuk anak yang lain.
Ahli mengatakan:
''Adanya jam weker membuat mereka merasa mendapatkan pembagian waktu yang persis sama'', ujar Dr. Mark W Roberts, profesor di The Idaho state University. Namun sebaiknya Anda mengajak mereka bicara dahulu, ajarkan untuk menyelesaikan masalah bersama dengan sikap toleransi . Bila tidak ada titik temu barulah dipakai trik ini. Jika tidak ada yang mau mengalah, bertindaklah tegas tidak memperbolehkan keduanya menonton televisi, agar mereka tahu bahwa sikapnya bisa merugikan dirinya juga.

3. Beri Kode untuk Barang Setiap Anak
Masalah:
Iko dan Erick selalu rebutan botol minum saat mau les berenang. Teriakan ''Ini punya aku!'' jadi sering terdengar di kuping.
Trik:
Beri kode tertentu untuk setiap anak. Misalnya warna biru untuk Iko dan warna hijau untuk Erick. Bisa juga menggunakan angka.
Ahli mengatakan:
''Anak-anak sering ribut hanya untuk sesuatu yang tidak jelas. Pemberian kode bisa mengajarkan mereka berempati terhadap sesama, mereka akan mengerti bagaimana perasaan orang lain bila barangnya dipakai atau direbut'', ujar Dr. Janet Brown penulis What Colour is Your Personality.

4. Periksa Program Televisi
Masalah:
Akhir-akhir ini Uli suka memukuli Ila adiknya. Tidak keras sih tapi cukup membuat Ila berteriak mengaduh dan membalas memukul. Ketika ditanya Uli bilang kalau dia sedang berperan menjadi jagoan seperti di film yang ditontonnya.
Trik:
Periksa program televisi yang hendak ditonton. Jangan sampai si kecil menonton film yang penuh adegan kekerasan.
Ahli mengatakan:
''Di masa pertumbuhan, anak mudah sekali dipengaruhi oleh apa yang dilihat dan didengar'', ujar Joanna Sulli, seorang psikolog anak. Bila sang buah hati ingin menonton suatu program acara pastikan Anda sudah menontonnya terlebih dahulu sebagai pencegahan bila ternyata program tersebut tidak cocok untuk anak-anak.
(sumber: hanyawanita.com)

Membantu anak menghadapi masalah gawat

Biasanya apa yang anda lakukan ketika anda menemukan bahwa anak anda menghadapi masalah yang gawat? Itu semua akan tergantung akan banyak hal seperti misalnya usia anak anda, kebutuhannya dan kemampuannya untuk mengerti. Tetapi ada beberapa panduan tertentu yang dapat anda ikuti untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut.
  • Temukan perasaaan optimis anda. Pada saat menghadapi masalah, biasanya anak-anak bereaksi terhadap yang mereka rasakan. Kita sebagai orang tua sangat penting menunjukkan bahwa kita berusaha keras dapat menemukan jalan untuk menegaskan sesuatu dalam kehidupan mereka, bahkan jika kita tidak mampu untuk menyelesaikannya
  • Coba untuk dapat memberi pertolongan yang praktis sepanjang dapat anda lakukan. Dukungan secara fisik seperti membantu dengan mengatur barang-barang atau membuat makanan favorit, dapat membuat perbedaan terutama pada saat terjadi krisis. Membantu, dengan segala bentuknya, dapat membebaskan energi yang anda miliki untuk berkumpul bersama dengan anak anda, bahkan untuk menentramkan hati atau menerangkan sesuatu kepada mereka. Seringkali teman-teman ingin atau paling tidak membantu, dan membiarkan mereka untuk melakukan sesuatu untuk hubungan mereka dan membangun komunitas yang ada.
  • Mendengarkan apa yang dirasakan anak anda. Anak-anak seringkali punya perasaan dalam merespon untuk merubah apa yang tidak bisa mereka kontrol. Ini sudah diluar kemampuan anda untuk membuat segalanya menjadi lebih baik, tetapi anda dapat memberikan anak anda hadiah yang tidak ternilai dari hanya mendengarkan.
  • Memberi anak anda informasi seperlunya dengan menggunakan cara-cara yang mudah. Ini sangat penting untuk memberikan informasi kepada anak anda tentang segala hal yang terjadi. Termasuk kemungkinan akibat-akibat yang akan dihadapi,walaupun itu merupakan informasi yang sulit untuk disampaikan Sebagai contoh, sewaktu-waktu anda dapat mengatakan: "saya kehilangan pekerjaan saya dan saya khawatir karenanya. Ini mungkin memerlukan waktu yang agak lama untuk mencari pekerjaan baru, tapi itu bisa dipikirkan nanti jalan keluarnya" atau, "sejak ibu keluar, segalanya menjadi serba sulit. Ini akan membutuhkan waktu yang agak lama, tapi kita akan pikirkan jalan keluar bagaimana membuat segalanya berjalan apa adanya.
  • Menyesuaikan penjelasan yang akan anda berikan sesuai dengan usia anak anda dan kemampuan untuk mengerti. Anak-anak mudah untuk bingung dengan penjelasan yang ada dalam bentuk dua versi yang tidak dapat mereka pahami.
  • Berbagi perasaan yang anda miliki dengan anak-anak dalam usia dan cara yang tepat. Ini merupakan tantangan untuk memperhitungkan bagaimana untuk berbagi perasaan sedih dengan anak-anak. Merupakan hal yang sangat penting untuk bersikap jujur kepada anak-anak tentang perasaan kita, yang tentunya dapat mereka baca dari wajah dan tubuh kita. Mereka dapat mengetahui apakah kita sedang sedih, jadi ini penting bahwa kita dapat berbagi kesedihan yang kita rasakan dengan mereka. Tetapi juga penting untuk melindungi mereka dari adanya tekanan dari orang dewasa respon untuk situasi serius sehingga kita tidak berlebihan atau menakuti mereka.
  • Ketika anda penasaran apa yang dapat anda bagi dengan anak anda ketika mengalami kesulitan, ini akan membantu untuk bertanya kepada diri anda sendiri: "Apakah saya mampu untuk berbagi perasaan yang saya rasakan? Atau "Dapatkah saya mengekspresikan perasaan saya yang paling dalam tentang hal ini.
  • Orang dewasa punya anggapan yang berbeda tentang perubahan dari anak-anak. Orang dewasa menganggap suatu masalah secara luas dan biasanya akan langsung membuat rencana jangka panjang. Sedangkan anak-anak selalu menginginkan untuk mengetahui bagaiamana perubahan akan berdampak pada mereka sekarang.
  • Menyakinkan lagi anak anda tentang apa yang akan terjadi pada mereka. Anak-anak akan bertanya seperti, "apakah hal itu juga akan terjadi padaku?" "siapa yang akan menjagaku?" atau "dimana aku akan tidur?" Anda harus mampu untuk menanggapi perhatian anak-anak dengan memberikan jawaban yang konkret:
  • Gunakan situasi sebagai kesempatan untuk mengajari hal yang baik.
Sumber: Detik.Com