Jumat, 01 Mei 2009

4 Trik Jitu agar Si Kecil Tak Sering Bertengkar

Salah satu kesulitan yang mesti dihadapi para orang tua adalah saat anak-anak mereka bertengkar. Dr Fredrick Toke, terapis khusus anak mengatakan: ''Sebagai orang tua kita harus mengajarkan mereka untuk bertoleransi, mempunyai empati dan tahu cara menyelesaikan masalah tanpa mendatangkan masalah''. Berikut 4 trik jitu cara menyiasati...
''Karen (32 tahun) hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat kedua buah hatinya 'asyik' bertengkar.. Riza (5tahun) dan Inggrid (4 tahun) sepertinya tidak pernah capai untuk saling berebut sesuatu. Mulai dari remote tv, playstation, buku cerita sampai memandikan Choco, anjing peliharaan mereka. Kalau sudah begitu Karen hanya tinggal tunggu waktu saja sampai salah seorang mereka menangis dan mengadu kepadanya.''
Banyak orang menyarankan sebaiknya punya anak dengan rentang waktu kelahiran sekitar 1-2 tahun. ''Supaya capeknya sekalian'', itu alasannya. Membesarkan 1 orang anak saja sudah cukup melelahkan apalagi 2 orang anak sekaligus! Kan sampai dengan umur 5 tahun adalah saat-saat paling penting bagi pertumbuhan anak. Sebagai seorang ibu tentu kita tidak mau mereka 'salah asuhan'.
Salah satu kesulitan yang mesti dihadapi para orang tua adalah saat anak-anak mereka bertengkar. Dr Fredrick Toke, terapis khusus anak mengatakan: ''Sebagai orang tua kita harus mengajarkan mereka untuk bertoleransi, mempunyai empati dan tahu cara menyelesaikan masalah tanpa mendatangkan masalah''.
Berikut 4 trik jitu cara menyiasati agar si kecil bisa berhenti bertengkar:
1. Habiskan Waktu yang Sama untuk Setiap Anak
Situasi:
Luna tidak mau keluar kamar sejak pulang sekolah. Dia ngambek begitu tau ayahnya menemani Luigi kursus sepak bola sore ini. Pikir Luna ayahnya tidak adil, karena ia tidak pernah ditemani ayahnya les piano.
Trik:
Habiskan waktu yang sama untuk setiap anak. Temani mereka dalam melakukan hobi atau kursus yang mereka kerjakan.
Ahli mengatakan:
Rasa marah si kecil karena cemburu akhirnya membuat mereka mencari alasan untuk bertengkar dengan saudaranya. ''Mereka akan berpikir Anda tidak adil karena Anda hanya mencintai yang lain'', ujar Dr Liz Norris. Nah, menghabiskan waktu bersama, selain menghapus kecemburuan itu juga membuat ikatan kekeluargaan semakin erat.

2. Beri Jam Weker
Situasi:
Aldi dan Alda ribut memperebutkan remote TV. Aldi ingin menonton Takashi Castle sementara Alda ingin menonton telenovela Dolce Maria di saluran lain.
Trik:
Pasang jam weker! setiap anak diberi waktu 15 menit untuk menonton acara favoritnya. Bila alarm jam sudah berbunyi berarti 15 menit berikutnya untuk anak yang lain.
Ahli mengatakan:
''Adanya jam weker membuat mereka merasa mendapatkan pembagian waktu yang persis sama'', ujar Dr. Mark W Roberts, profesor di The Idaho state University. Namun sebaiknya Anda mengajak mereka bicara dahulu, ajarkan untuk menyelesaikan masalah bersama dengan sikap toleransi . Bila tidak ada titik temu barulah dipakai trik ini. Jika tidak ada yang mau mengalah, bertindaklah tegas tidak memperbolehkan keduanya menonton televisi, agar mereka tahu bahwa sikapnya bisa merugikan dirinya juga.

3. Beri Kode untuk Barang Setiap Anak
Masalah:
Iko dan Erick selalu rebutan botol minum saat mau les berenang. Teriakan ''Ini punya aku!'' jadi sering terdengar di kuping.
Trik:
Beri kode tertentu untuk setiap anak. Misalnya warna biru untuk Iko dan warna hijau untuk Erick. Bisa juga menggunakan angka.
Ahli mengatakan:
''Anak-anak sering ribut hanya untuk sesuatu yang tidak jelas. Pemberian kode bisa mengajarkan mereka berempati terhadap sesama, mereka akan mengerti bagaimana perasaan orang lain bila barangnya dipakai atau direbut'', ujar Dr. Janet Brown penulis What Colour is Your Personality.

4. Periksa Program Televisi
Masalah:
Akhir-akhir ini Uli suka memukuli Ila adiknya. Tidak keras sih tapi cukup membuat Ila berteriak mengaduh dan membalas memukul. Ketika ditanya Uli bilang kalau dia sedang berperan menjadi jagoan seperti di film yang ditontonnya.
Trik:
Periksa program televisi yang hendak ditonton. Jangan sampai si kecil menonton film yang penuh adegan kekerasan.
Ahli mengatakan:
''Di masa pertumbuhan, anak mudah sekali dipengaruhi oleh apa yang dilihat dan didengar'', ujar Joanna Sulli, seorang psikolog anak. Bila sang buah hati ingin menonton suatu program acara pastikan Anda sudah menontonnya terlebih dahulu sebagai pencegahan bila ternyata program tersebut tidak cocok untuk anak-anak.
(sumber: hanyawanita.com)

Membantu anak menghadapi masalah gawat

Biasanya apa yang anda lakukan ketika anda menemukan bahwa anak anda menghadapi masalah yang gawat? Itu semua akan tergantung akan banyak hal seperti misalnya usia anak anda, kebutuhannya dan kemampuannya untuk mengerti. Tetapi ada beberapa panduan tertentu yang dapat anda ikuti untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut.
  • Temukan perasaaan optimis anda. Pada saat menghadapi masalah, biasanya anak-anak bereaksi terhadap yang mereka rasakan. Kita sebagai orang tua sangat penting menunjukkan bahwa kita berusaha keras dapat menemukan jalan untuk menegaskan sesuatu dalam kehidupan mereka, bahkan jika kita tidak mampu untuk menyelesaikannya
  • Coba untuk dapat memberi pertolongan yang praktis sepanjang dapat anda lakukan. Dukungan secara fisik seperti membantu dengan mengatur barang-barang atau membuat makanan favorit, dapat membuat perbedaan terutama pada saat terjadi krisis. Membantu, dengan segala bentuknya, dapat membebaskan energi yang anda miliki untuk berkumpul bersama dengan anak anda, bahkan untuk menentramkan hati atau menerangkan sesuatu kepada mereka. Seringkali teman-teman ingin atau paling tidak membantu, dan membiarkan mereka untuk melakukan sesuatu untuk hubungan mereka dan membangun komunitas yang ada.
  • Mendengarkan apa yang dirasakan anak anda. Anak-anak seringkali punya perasaan dalam merespon untuk merubah apa yang tidak bisa mereka kontrol. Ini sudah diluar kemampuan anda untuk membuat segalanya menjadi lebih baik, tetapi anda dapat memberikan anak anda hadiah yang tidak ternilai dari hanya mendengarkan.
  • Memberi anak anda informasi seperlunya dengan menggunakan cara-cara yang mudah. Ini sangat penting untuk memberikan informasi kepada anak anda tentang segala hal yang terjadi. Termasuk kemungkinan akibat-akibat yang akan dihadapi,walaupun itu merupakan informasi yang sulit untuk disampaikan Sebagai contoh, sewaktu-waktu anda dapat mengatakan: "saya kehilangan pekerjaan saya dan saya khawatir karenanya. Ini mungkin memerlukan waktu yang agak lama untuk mencari pekerjaan baru, tapi itu bisa dipikirkan nanti jalan keluarnya" atau, "sejak ibu keluar, segalanya menjadi serba sulit. Ini akan membutuhkan waktu yang agak lama, tapi kita akan pikirkan jalan keluar bagaimana membuat segalanya berjalan apa adanya.
  • Menyesuaikan penjelasan yang akan anda berikan sesuai dengan usia anak anda dan kemampuan untuk mengerti. Anak-anak mudah untuk bingung dengan penjelasan yang ada dalam bentuk dua versi yang tidak dapat mereka pahami.
  • Berbagi perasaan yang anda miliki dengan anak-anak dalam usia dan cara yang tepat. Ini merupakan tantangan untuk memperhitungkan bagaimana untuk berbagi perasaan sedih dengan anak-anak. Merupakan hal yang sangat penting untuk bersikap jujur kepada anak-anak tentang perasaan kita, yang tentunya dapat mereka baca dari wajah dan tubuh kita. Mereka dapat mengetahui apakah kita sedang sedih, jadi ini penting bahwa kita dapat berbagi kesedihan yang kita rasakan dengan mereka. Tetapi juga penting untuk melindungi mereka dari adanya tekanan dari orang dewasa respon untuk situasi serius sehingga kita tidak berlebihan atau menakuti mereka.
  • Ketika anda penasaran apa yang dapat anda bagi dengan anak anda ketika mengalami kesulitan, ini akan membantu untuk bertanya kepada diri anda sendiri: "Apakah saya mampu untuk berbagi perasaan yang saya rasakan? Atau "Dapatkah saya mengekspresikan perasaan saya yang paling dalam tentang hal ini.
  • Orang dewasa punya anggapan yang berbeda tentang perubahan dari anak-anak. Orang dewasa menganggap suatu masalah secara luas dan biasanya akan langsung membuat rencana jangka panjang. Sedangkan anak-anak selalu menginginkan untuk mengetahui bagaiamana perubahan akan berdampak pada mereka sekarang.
  • Menyakinkan lagi anak anda tentang apa yang akan terjadi pada mereka. Anak-anak akan bertanya seperti, "apakah hal itu juga akan terjadi padaku?" "siapa yang akan menjagaku?" atau "dimana aku akan tidur?" Anda harus mampu untuk menanggapi perhatian anak-anak dengan memberikan jawaban yang konkret:
  • Gunakan situasi sebagai kesempatan untuk mengajari hal yang baik.
Sumber: Detik.Com

Kamis, 30 April 2009

Mainan Kayu Edukatif Balita

Nabiel's Collection menyediakan mainan kayu edukatif buat balita. Terbuat dari kayu pinus, MDF dan jati belanda, serta pewarnaan dengan menggunakan cat non toxic ( tidak mengandung merkuri / timbal ), sehingga aman buat balita anda. Nabiel's Collection menyediakan berbagai macam jenis mainan edukatif yang bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan perkembangan otak anak / balita. Dengan harga yang sangat kompetitif, kami berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi balita anda. Hubungi kami di 021-8200472 atau 0813-85883859 atau 0888-9702988 atau email di nabil.ibnu@yahoo.com. Kami akan memberikan katalog kepada anda, sehingga memudahkan anda dalam memilih permainan yang cocok bagi balita anda........

Ajari si Kecil Menghargai Perbedaan

Lewat kata dan perbuatan, Anda dapat mengajarjkan pada anak-anak tentang empati dan pentingnya menghargai orang lain, terlepas dari semua perbedaan yang ada.
Jika dulu ukuran kecerdasan anak kerap merujuk pada IQ (Intelligent Quotient), maka kini banyak ahli menekankan pentingnya membangun EQ (Emotional Quotient) dan SQ (Seocial Quotient), sebagai modal keberhasilan anak. Kemampuan berinteraksi dengan berbagai kalangan adalah salah satu ketrampilan sosial yang berperan penting dalam mendorong seorang anak untuk berempati, bekerja sama dan saling menghormati dengan orang lain. Semua kemampuan tadi tentu sangat diperlukan kelak saat ia dewasa dan masuk dalam dunia kerja dan lingkungan sosial.
Membangun kemampuan berinteraksi dan saling menghormati dengan orang dari berbagai kalangan tidak dapat dilakukan secara instan maupun dipelajari lewat nasihat semata. Anak-anak memerlukan contoh yang nyata. Sebagai orang tua, Anda biasanya menjadi role model utama bagi si Kecil. Anak-anak telah menyadari adanya perbedaan sejak usia sangat muda, meski orang dewasa di sekitarnya tidak pernah membicarakannya. Meski menyadari adanya perbedaan, namun mereka belum memahami apa arti perbedaan tersebut. Dari orang-orang dewasa di sekitarnya ia belajar tentang arti dan sikap dalam menghadapi perbedaan.
Diane Maluso, Associate Professor of Psychology di Elmira College, juga menekankan pentingnya peran orang tua tersebut. “Anak-anak bekajar tentang sikap orang tua terhadap orang lain dari cara orang tuanya berinteraksi dan dengan ungkapan-ungapan yang dilontarkan mengenai orang lain”, paparnya. Lewat sikap serta bahasa yang digunakan orang tuanya terhadap orang lain, anak-anak belajar tentang konsep diri dan relasinya dengan orang lain.
Jika Anda memiliki hubungan baik serta menunjukkan rasa hormat pada orang yang berbeda baik secara fisik, gender, sosial maupun ekonomi maka anak akan belajar bahwa semua perbedaan tersebut bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan. Namun kalau anda justru kerap meremehkan atau berbicara dengan tidak sopan pada orang-orang tertentu, jangan heran jika si Kecil pun akan melakukan hal yang sama. Contoh paling sederhana, ingat-ingatlah cara memperlakukan pembantu rumah tangga dan supir di rumah. Kalau Anda kerap berbicara dengan nada memerintah dan meremehkan, siap-siap saja mendengar hal yang sama keluar dari mulut si Kecil.
Pada usia Sekolah Dasar, pemahaman anak akan status sosial dirinya serta teman-temannya juga makin meningkat dan mendorong terbentuknya sikap-sikap tertentu yang berkaitan dengan status sosialnya. Namun begitu, pada usia ini sikap egosentris anak-anak juga telah berkurang dibanding usia balita hingga mereka mulai mampu memfokuskan diri pada kualitas internal seperti kebaikan dan keburukan seseorang, dibandingkan perbedaan eksternal seperti perbedaan ras maupun kelas sosial. Pada tahap ini, lagi-lagi orang tua sangat berperan dalam mendorong anak-anaknya untuk mengeksplorasi perbedaan yang ada, memberikan penjelasan terhadap pertanyaan-pertanyaan mereka, dan melibatkan mereka dalam kegiatan-kegiatan yang membuka ruang berinteraksi dengan berbagai kalangan.
Berikut beberapa tips untuk mendorong anak-anak agar menghargai dan tidak membeda-bedakan orang dari berbagai kalangan:
  • Buka kesempatan untuk mempelajari berbagai perbedaan, seperti berinteraksi dengan berbagai kalangan, sebisa mungkin dimulai dari lingkungan terdekat seperti teman-teman bermainnya, kerabat hingga kegiatan-kegiatan rekreasi.
  • Pilih mainan, buku dan film yang merefleksikan berbagai jenis individu yang berbeda sepertui usia, profesi, latar belakang sosial – ekonomi, suku bangsa dan lain-lain
  • Berikan kesempatan pada anak-anak untuk bermain bersama teman-teman seusianya. Bermain adalah cara terbaik bagi anak-anak untuk belajar berinteraksi dan bekerjasama dengan orang lain.
  • Kemampuan memahami apa yang dirasakan orang lain atau berempati adalah kemampuan yang penting dimiliki oelah anak. Untuk menumbuhkannya, bantu anak mengungkapkan perasaaan mereka dan dorong mereka untuk membayangkan perasaan orang lain. Dengan begitu, anak akan memahami bahwa seperti dirinya, orang lain juga senang bila diperlakukan dengan baik dan sedih bila diperlakukan tidak baik
  • Saat anak-anak semakin besar dan mengajukan pertanyaan tentang berbagai perbedaan yang ada, dukunglah dengan memberikan informasi yang sesuai dengan usia mereka.
(http://www.sahabatnestle.co.id/)

Kenapa Anak Dijauhkan Temannya?

Rasanya tak ada orangtua yang senang mendengar anaknya tak punya teman. Karena, memang pertemanan memiliki arti penting bagi perkembangan sosialisasi anak. Di samping perasaan sedih, kadang muncul juga perasaan tak bisa menerima. Mengapa anakku bisa tak punya teman? Apalagi jika selama ini sianak dinilai cukup supel. Sebelum menasihati anak, ada baiknya anda mencari tahu dulu apa yang sesungguhnya terjadi. Mengapa teman-teman anak tak mau lagi bermain dengannya? Ada apa dengan mereka? Ada apa pula dengan anak anda? Hindari langsung membuat kesimpulan hanya dari cerita anak. Sebab, sebuah pertengkaran kecil antara anak dan teman baiknya bisa saja membuatnya kesepian dan merasa dikucilkan dari pergaulan. Walaupun, mungkin saja sebenarnya mereka tak berkeberatan atas kehadiran anak anda.
Sumber yang tepat untuk memperoleh informasi berimbang mengenai kasus ini adalah teman-temannya. Mintalah mereka menceritakan kejadian yang sebenarnya, sehingga anda tahu mengapa anak menuduh kawan-kawannya tak menyukainya dan enggan bermain bersamanya.
Berdasarkan informasi tersebut, barulah anda bisa membuat penilaian. Apakah tuduhan anak berlebihan atau tidak. Kalau hasil penilaian ternyata lebih baik daripada cerita anak (kenyataannya, ia masih punya banyak teman), anda bisa menenangkan anak dengan memeluknya dan mengatakan, "Coba tebak apa kata teman-temanmu, mereka senang bermain denganmu, sayang!"
Lalu bagaimana jika anak benar-benar tak punya teman. Pertama, anda bisa menanyakan, mengapa ia sampai mengira tak seorang pun mau menjadi temannya. Dengarkanlah seluruh penjelasannya, walaupun penjelasan itu tak menjawab pertanyaan anda dengan tepat.
Adakah anak bercerita bahwa teman-teman menganggapnya sok pemimpin, atau menganggapnya pemarah? Untuk mengecek kebenaran cerita anak, anda perlu juga menyaksikan sendiri bagaimana perilaku anak saat bergaul dengan teman-temannya. Apakah ia mudah bergaul dan ramah, atau sebaliknya suka memaksa dan galak? Maukah ia berbagi? Apakah ia tak mengikuti aturan? Setelah menyaksikan sendiri cara bergaul anak, tanyalah diri anda, jika anda seusia mereka, bersediakah anda bermain bersamanya?
Mengakui kekurangan anak, bagi orangtua, kadang memang berat. Tapi jika ingin situasi membaik, anda harus jujur terhadap diri sendiri, juga anak anda. Ini adalah langkah awal untuk membantu anak mengatasi masalah dalam pergaulan sosialnya.
Misalnya, tak suka berbagi. Anda bisa mengajarkan cara berbagi di rumah. Mintalah anak memberikan sebagian makanannya untuk anda, atau meminjamkan mainan kepada saudaranya. Bila anak bersedia dan mampu melakukannya dengan baik, beri pujian. Lalu yakinkan anak, bahwa dia juga bisa melakukannya pada teman-temannya.
Terlalu agresif. Terangkan, bagaimana cara berinteraksi tanpa memaksa. Beritahu cara mengendalikan emosi. Misalnya, tak memukul teman walau sedang kesal. Mintalah agar anak mau mendengarkan ucapan teman-temannya, jangan bicara terus tanpa memberi teman kesempatan bicara.
Menarik diri. Anda bisa mengingatkan anak, bahwa dirinya menyenangkan dan punya kelebihan. Jadi, untuk apa menarik diri. Ajarkan juga cara memulai percakapan kecil dengan teman. Misalnya dengan mengatakan, "Aku suka baju kamu", atau "Kamu mau nggak main boneka sama aku?" Ajak anak berlatih bicara dengan anda di rumah, sampai ia lancar mengucapkan kalimat pembuka percakapan.
Kasar dan berisik. Anak seusia ini mungkin belum sadar, sikap kasar dan berisik membuat teman-temannya menjauh. Bahkan mungkin anak menganggapnya baik, karena kadang mengundang gelak tawa dan keriuhan. Karenanya, bilang saja padanya bahwa perilaku seperti itu memang bisa mengundang tawa. Tapi bisa juga membuat orang terganggu.
Terlihat tak ramah. Latihlah anak berkomunikasi secara positif. Misalnya, beri saran agar ia lebih sering tersenyum, menatap mata, dan menegakkan kepala waktu berbicara dengan teman. Ajarkan pula cara menunjukkan sikap penolakan, persetujuan, atau pendapat kepada teman-temannya.
Tak percaya diri. Anak, mungkin belum sadar bahwa sikapnya yang serba canggung dan tak percaya diri membuat orang malas berdekatan dengannya. Untuk menumbuhkan keyakinan dan rasa percaya dirinya, ajak ia bergabung dengan kelompok kegiatan yang disukai. Apakah itu berkesenian, berolahraga atau berorganisasi.
Selamat mencoba! Semoga anak anda semakin disukai oleh orang-orang yang mengenalnya.

Sumber: www.perempuan.com)

Kenalkan Internet Sesuai Usia

Di zaman serba canggih seperti saat ini, anak-anak semakin mudah menyentuh dunia internet. Agar mereka tetap aman berinternet, ikuti cara mengenalkan internet yang baik sesuai usia anak berikut ini.
A. USIA 2-4 TAHUN
Anak balita yang mulai berinteraksi dengan komputer harus didampingi orangtua atau orang dewasa.
Pendampingan ini bukan sekadar menyangkut soal keselamatan dan keamanan saja, tapi juga membawa anak memiliki pengalaman yang menyenangkan sekaligus memperkuat ikatan emosional antara Si Kecil dengan orangtua.
Pilihlah situs yang cocok, aman, layak dan terpercaya dikunjungi, tanpa perlu memaksa anak keluar dari situs ketika masih menginginkannya. .
B. USIA 4-7 TAHUN
Peran orangtua masih sangat penting untuk mendampinginya ketika berinternet. Orangtua juga harus mempertimbangkan batasan, situs apa saja yang boleh dan tidak dikunjungi Si Kecil.
Orangtua bisa membuat direktori atau search engine khusus agar anak mudah membuka situs yang layak, sehingga, ia akan mendapatkan pengalaman positif jika menemukan banyak hal baru dari internet.
C. USIA 7-10 TAHUN
Di usia ini, anak mulai mencari informasi dan kehidupan sosialnya di luar keluarga. Faktor pertemanan dan kelompok bermain juga mulai berpengaruh secara signifikan terhadap kehidupannya. Ia juga mulai meminta kebebasan lebih banyak.
Anak memang harus didorong untuk bereksplorasi, meski bukan berarti tidak ada pendampingan orangtua. Jadi, sebaiknya tempatkan komputer di ruangan yang mudah diawasi agar anak bebas bereksplorasi dengan internet di rumah.
Pertimbangkan menggunakan software filter, memasang search engine khusus anak, untuk mencapai situs yang boleh dikunjunginya, atau gunakan browser yang dirancang khusus untuk anak.
Di masa ini, fokus orangtua jangan hanya pada apa yang ia lakukan, tapi juga batasi berapa lama ia online.
D. USIA 10-12 TAHUN
Di masa pra-remaja ini, anak butuh lebih banyak pengalaman dan kebebasan. Inilah saat yang tepat untuk lebih mengenalkan fungsi internet dalam membantu tugas sekolah, atau menemukan banyak hal, yang berhubungan dengan hobinya.
Di usia 12, anak mulai mengasah kemampuan dan nalarnya sehingga ia akan membentuk nilai dan norma sendiri, yang dipengaruhi nilai dan norma yang dianut kelompok pertemanannya.
Tugas orangtua adalah membantu mengarahkan kebebasannya. Jadi, fokusnya bukan hanya terpaku pada apa yang ia lihat di internet, tapi juga berapa lama ia online. Batasi penggunaannya, jangan sampai ia tenggelam di dunia maya dan melupakan dunia sosial yang sesungguhnya.
E. USIA 12-14 TAHUN
Inilah saatnya anak-anak mulai aktif menjalani kehidupan sosialnya. Bagi anak pengguna internet, kebanyakan akan tertarik online chat (chatting). Tekankan lagi kepada mereka dasar-dasar penggunaan internet di rumah.
Ingatkan juga, agar jangan pernah memberikan data pribadi apa pun, bertukar foto, atau brertemu muka dengan orang yang baru dikenalnya melalui chatting, tanpa sepengetahuan atau seizin orangtua.
Di usia ini juga anak mulai tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas. Sangat alamiah jika ia mulai penasaran dengan lawan jenisnya. Nah, waktunya orangtua waspada terhadap aktifitas anak.
Orangtua tak harus selalu berada di satu ruangan ketika anak sedang berinternet. Namun, ia harus tahu, orangtua bisa seawaktu-waktu masuk ke dalam kehidupannya, dan bertanya segala hal tentang aktivitasnya, termasuk aktivitasnya di internet. (TABLOID NOVA/INTAN/ ICT Watch)

Kutanam Sekarang Untuk AnakKu

Rabu, 1 April 2009 - Dikirim oleh: dasmanto
Rubrik : Pendidikan Anak

Kita tidak akan pernah lepas dari perbincangan dunia pendidikan. Namun kita akan terlepas jika tidak dikendalikan. Hal itu terutama akan berpengaruh kepada masa depan sang buah hati. Untuk mengendalikannya tentu kita harus pikirkan mulai sekarang saat dimana sang buah hati lahir ke dunia. Ini juga berkaitan dengan sisi perekonomian keluarga. Orang tua yang bijak sudah pasti mempunyai pemikiran ke arah itu.
Masa depan anak tidak dimulai sejak dia masuk TK ataupun SD, tetapi masa depan itu harus dimulai sejak dia dilahirkan. Apa yang harus dilakukan oleh orang tua?
Yang paling pertama dan utama apa yang harus orang tua pikirkan dan persiapkan untuk pendidikan anak nanti? Saya mempunyai sebuah motto : "Kutanam Sekarang Untuk AnakKu"
Motto itu dimaksudkan agar orang tua menyadari akan pentingnya pendidikan anak yang harus terpenuhi. Dan bagaimana memenuhinya? Ingat, banyak sekali produk-produk Asuransi dan perbankan diantaranya Tabungan dan Deposito yang menawarkan berbagai hal yang berkaitan dengan pendidikan. Salah satunya Asuransi Pendidikan dan Tabungan Pendidikan. Kenapa orang tua tidak berpikir ke arah itu?
Mungkin banyak orang tua yang mempunyai alasan-alasan tersendiri seperti : Tidak sempat alias tidak punyai waktu, tidak punya rekening sebelumnya, tidak mengerti, tidak punya penghasilan tetap.
Alasan-alasan seperti ini sudah jelas berkaitan dengan waktu dan kondisi perekonomian keluarga. Yang jelas kebijakan ada ditangan orang tua. Harapan masa depan anak ada ditangan orang tua. Perkembangan pola pikir anak ada juga ditangan orang tua.
Jadi, Jika orang tua terus berasalan, siapa yang akan bertanggung jawab?